Kisah Achmad K Permana, Tukang Taman yang Sukses Sehatkan Muamalat

wargasipil.comBank Muamalat beberapa tahun lalu sempat ditimpa kabar tak sedap. Mulai dari kondisi keuangan yang kurang sehat sampai di ambang kebangkrutan.

Namun kini, bank murni syariah pertama di Indonesia sudah kembali survive dan sehat. Apalagi dengan masuknya Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pemegang saham pengendali.

Kini Bank Muamalat dipimpin oleh Achmad Kusna Permana. Seorang bankir yang sudah belasan tahun menggeluti perbankan syariah.

Siapa sangka dulunya permana merupakan seorang tukang taman di Taman Bunga Nusantara yang terletak di Cipanas. Hingga akhirnya karir Permana berubah pesat dari seorang tukang taman menjadi salah satu direktur utama bank syariah terbesar di Indonesia.

Kepada, Permana menceritakan ia adalah seorang sarjana ilmu tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia masuk ke IPB karena ingin membentuk tim basket bersama kawan-kawannya. Kala itu, Permana tidak tahu apa yang akan dipelajari di ilmu tanah.

Ketika masuk dan belajar dia mengaku sempat kesulitan dan berupaya untuk menyelesaikan studinya dengan baik. “Saya masuk IPB jalur undangan karena saya masuk kategori anak yang pintar, kalau tes juga belum tentu diterima waktu itu,” kenangnya.

Selama kuliah, Permana terus mengimbangi akademiknya dengan olahraga mulai dari voli sampai basket. Hingga ketika dia lulus, dia bekerja untuk Yayasan Bunga Nusantara dan mengerjakan proyek tersebut.

Setiap hari dia panas-panasan di taman bunga dan membuat terasering, pembenihan sampai penataan taman bunga. “Waktu itu saya kerja panas-panasan terus, sampai flek hitam di wajah banyak. Saya kontrak di situ, bikin terasering, tempat benih sampai bunga datang dari Belanda segala macam saya yang urus. Di Bengkulu juga saya yang survei sampai membuka lahan,” imbuh dia.

Beberapa waktu kemudian, dia bertemu dengan teman kulihanya. Kala itu sang teman bekerja sebagai bankir. Di McD Sarinah mereka bertemu. Permana yang bekerja di taman, berdandan seadanya. Namun temannya yang bankir terlihat sangat keren karena pakai kemeja putih dan dasi.

“Dalam hati gue bilang, secara fisik gantengan gue, pinteran gue kuliahnya. Pokoknya dia kern lah waktu itu, pakai dasi dicopot terus digulung-gulung. Kalau gue didandanin oke juga,” ujar Permana.

Nah dari sinilah dia terpikirkan untuk banting setir menjadi bankir. Dia mulai mengikuti officer development program (ODP) di sebuah bank swasta. Saat itu masih bank konvensional dan belum terpikirkan untuk masuk ke syariah.

Permana sempat masuk ke beberapa bank mulai dari Bank Bali (kini PermataBank), HSBC, Danamon dan PermataBank. Hingga akhirnya ketika dia sedang bertugas di Amerika Serikat (AS) dia kala itu ada di divisi kartu kredit.

“Bagus banget performa saya waktu itu, melejit. Tapi ketika waktu itu ada syariah nih segala macam ada riba. Sebagai muslim saya terpanggil, tiba-tiba ada fatwa MUI, saya takut mati ini,” imbuh dia.

Hal ini membuat Permana pindah haluan ke syariah. Hingga kini dia merasa passionnya berada di syariah dan. “Saya tidak ada keinginan kembali ke konvensional, jika sudah selesai di BMI Insya Allah saya nanti mungkin mau di financial atau non dan ingin tetap syariah. Saya percaya kalau ada passion di situ tidak mungkin performance kita biasa-biasa saja,” jelasnya.

Saat masuk Muamalat, Permana tahu jika kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Kala itu dia diajak oleh IsDB untuk masuk ke Muamalat, namun dia tolak. Karena dia baru diangkat menjadi direktur di PermataBank. Lalu ada lagi pergantian direktur di PermataBank dan dia merasa tidak bisa menolak lagi.

Namun dia merasa terpanggil. “Mungkin Allah ngetes saya nih mau nggak, karena Muamalat problemnya sudah kompleks. Tidak ada pilihan saya harus ke sini, masa pejuang syariah di-challenge Muamalat ketakutan,” ujar dia.

Saya selesaikan masalahnya, alhamdulillah akhir tahun lalu beres dan modal masuk dari BPKH. Lalu pembiayaan bermasalah dibuang dan Muamalat kembali sehat. Menurut dia mengurus Muamalat ini memang butuh tantangan.

“Kalau Allah tahu saya tidak mampu menjalani, nggak mungkin dia masukin saya ke sini, saya puna keyakinan itu. Turbulensinya sudah parah, kita tahu sudah hampir tutup dan setengah mati mengatasinya,” imbuh dia.

Saat itu sempat ada 35 investor yang antre ingin masuk ke Muamalat. Lalu BPKH terpilih, dia yakin masuknya BPKH ada intervensi dari Allah SWT dan doa-doa yang mabrur membuat Muamalat kembali sehat.

“Jadi buat saya ya pelajaran di Muamalat itu hikmahnya terlalu banyak pertama buat my professional achievement itu menurut saya 5 tahun di Muamalat itu acceptional karena saya belajar tidak hanya di sisi banking saya orang consumer saya melihat bagaimana ngurus yang namanya modal, investor, politik segala macem ya dan buat saya itu akhirnya menjadi pengalaman yang nggak ada duanya lah Muamalat,” ujar dia.

Menurut Permana, menyehatkan Muamalat seperti menyehatkan mobil rusak. Namun saat diperbaiki tidak bisa berhenti, harus tetap berjalan. Sebagai bank harus tetap melayani nasabah. “Seolah banknya atau mobilnya itu ada. Padalah kita jalan pakai kaki kita, bukan pakai ban,” jelas dia.

Bank Muamalat merupakan bank syariah pertama yang didirikan pada 31 tahun lalu atas inisiatif Ikatan Cendikiawan Muslim. Saat itu pak Harto menawarkan jemaah haji untuk mengalokasikan sebagian dananya untuk membeli saham BMI.

Hal ini yang membuat saham Bank Muamalat mencapai 372 ribu pemegang saham. “Karena itu majority adalah jemaah haji yang pada periode itu membeli sebagian saham BMI. Jadi sekarang jumlah pemegang saham Bank Muamalat paling besar 387 ribu,” jelas dia.

Kemudian Bank Muamalat mengundang kepemilikan investor luar negeri. Masuklah Islamic Develompent Bank (IsDB) lalu krisis 1998, Boubyan Bank dan Setco dari Timur Tengah masuk sebagai pemegang saham mayoritas ada tiga entitas. Sampai terakhir ada BPKH masuk akhir 2021.

“Jadi sebenarnya tahun 1998 – 2021 itu hampir 3 dekade dimiliki oleh pemegang saham asing, Timur Tengah dan IsDB. Lalu BPKH masuk mengembalikan kepemilikan Bank Muamalat kepada bumi pertiwi. Kemudian yang kedua adalah mengembalikan secara tidak langsung Bank Muamalat kepada jemaah haji melalui BPKH, karena BPKH kan dananya dana haji,” ujar dia.

Menurut dia masuknya BPKH ke Muamalat itu sangat memperkuat porsi bank di segmen islamic. BPKH dinilai memiliki fokus ekosistem haji dan umrah yang bisa menguatkan bank.

Sebagai pimpinan, Permana mengarahkan BMI itu tidak terlalu fokus ke mana-mana. Fokus saja pada segmen islami karena kekuatan Bank Muamalat ada di situ. Misal ada segmen islami seperti rumah sakit islam, sekolah islam harusnya BMI bisa kompetisi dengan bank konvensional manapun.

“Mereka membuat sekolah sampai rumah sakit islam kan karena sesuai tujuan syariah kan. Jadi bisnis kita pun saat ini ke arah situ. Kita fokus pada segmen yang sama dan produk kita lebih fit dan keahlian kita fokus. Dengan ini saya yakin bisa tumbuh sehat, karena kita bermain di area yang punya passion dan kapabilitas yang baik di situ. Nggak perlu ke tempat lain. Sekarang islamic halal makin besar seperti passion halal, passion syariah, passion food yang makin lama semakin besar,” jelas dia.

Karena itu, dengan ekosistem terus membesar ini yang membuat Bank Muamalat berupaya terus berkompetisi dan tidak terjerembab karena tidak main segmen yang bermacam-macam.