AS Ragu Cairkan Aset Afghanistan karena Kekhawatiran akan Terorisme

AS Ragu Cairkan Aset Afghanistan karena Kekhawatiran akan Terorisme

Berbagai kelompok hak asasi manusia dan lembaga bantuan mengatakan situasi bagi rakyat Afghanistan saat ini merupakan bencana. Sebagian warga menjual organ mereka atau anak-anak mereka untuk bertahan hidup. Satu tahun setelah penarikan pasukan dan diplomat Amerika, Amerika Serikat masih menjadi donor tunggal terbesar bantuan kemanusiaan bagi negara tersebut.

Fereshta Abbasi, peneliti Afghanistan untuk Human Rights Watch, mengatakan, “Menurut statistik terbaru yang diterbitkan oleh Program Pangan Dunia, 90 persen orang Afghanistan menghadapi kerawanan pangan satu tahun setelah pengambilalihan Taliban. Orang-orang sekarat karena kelaparan. Itu artinya orang tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.”

Hari Senin (15/8) Taliban merayakannya saat mereka menandai satu tahun sejak mereka merebut kembali kekuasaan dari pemerintah yang didukung AS di Kabul, dengan mengatakan mereka mengupayakan hubungan politik dan ekonomi yang kuat dengan semua negara di kawasan itu dan dunia.

Tetapi pemerintahan Biden mempertanyakan jaminan Taliban, menunjuk pada pembunuhan buronan pemimpin al-Qaida Ayman al-Zawahiri bulan lalu dalam serangan pesawat nirawak AS di rumah persembunyiannya di jantung Kabul.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan pemerintahan Biden tidak siap dalam waktu dekat untuk melepaskan dana yang disimpan di Amerika Serikat kembali ke bank sentral Afghanistan, tetapi telah bernegosiasi dengan bank itu selama berbulan-bulan untuk menemukan solusi.

AS Ragu Cairkan Aset Afghanistan karena Kekhawatiran akan Terorisme

Juru bicara Deplu AS Ned Price

“Saat ini, kami sedang melihat mekanisme yang dapat diterapkan untuk memastikan bahwa aset yang diamankan senilai $3,5 miliar ini berhasil secara efisien dan efektif sampai ke warga Afghanistan dengan cara yang tidak membuatnya siap untuk diselewengkan ke kelompok teroris atau ke tempat lain.”

Para ahli mengatakan kepada VOA, fakta bahwa pemimpin Al Qaeda itu tinggal tepat di tengah kota Kabul bersama keluarganya merupakan pukulan bagi upaya untuk melepaskan aset tersebut.

Michael Kugelman adalah peneliti di Wilson Center. “Sekarang saya berpikir bahwa mengingat apa yang terjadi dengan al-Zawahri, AS akan mengambil garis yang lebih keras dan tidak akan menyetujui jenis pengaturan apa pun untuk melepaskan dana itu kembali ke kendali Afghanistan kecuali ada mekanisme yang jelas dan siap. Pengaturan itu mungkin semacam dana perwalian terpisah yang akan menghalangi penyalahgunaan apa pun yang akan dilakukan Taliban. Taliban akan mengambil garis keras. Taliban, karena alasan politik, harus memastikan legitimasi jajarannya.”

Para ahli, termasuk Fereshta Abbasi, mengatakan komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, tentu perlu meningkatkan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil Afghanistan. Tetapi mereka juga meminta Taliban untuk mempertimbangkan kembali prioritas mereka dan memenuhi kebutuhan dasar rakyat daripada memberlakukan lebih banyak pembatasan pada hak-hak perempuan di Afghanistan. [lt/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.